North melangkah gontai keluar dari kamarnya. Ada banyak sekali hal yang bersarang dibenak—tentu bukan soal sepele. Sebab, salah sedikit saja, semuanya akan fatal.
“Oke, intinya gue ga perlu bilang apapun ke siapapun.” Itu tekadnya.
Dilihat North, sang ibu baru memasuki rumah dengan banyak sekali barang bawaan—ia berlari kecil tuk membantu. “Kok nggak bilang kalo ibu mau belanja?”
“Ngapain? Ibu tadi lihat North lagi sibuk belajar.”
Belajar melarikan diri dari jangkauan vampir, batinnya.
“Kamu lagi banyak pikiran?” Tanya ibu. Mata wanita paruh baya itu menyorot sendu pada si anak bungsu. North menggeleng, “Nggak bu, cuma agak capek aja.”
Pandangan North beralih pada dinding ruang tamu rumahnya. Satu keluarga di tempatnya tinggal mempunyai rambut hitam legam, sementara dia—blond sejak kecil.
“Dulu katanya ibu nemuin aku didepan pintu rumah ya?” Tanya North.
Ibu yang sedang mencuci beras menoleh, lantas mengangguk. Bagaimanapun Juga, North sudah remaja. Tanda bahwa ia harus tahu sebagian dari masalalunya.
“Sama kertas bertuliskan namamu dan kalung hijau yang setiap hari kamu pakai itu. Makanya tetangga sempat nanya—anaknya bule, namanya bule tapi ibu bapak dan saudarinya Asian.”
“Ibu nyesel pas ngambil North?”
Ibu menggeleng, wanita itu menyalakan rice cooker lalu duduk disamping North. “Pas ayah nemuin kamu, kakak mu seneng banget. Kami seneng. North bawa banyak keberuntungan buat keluarga ini, bahkan sekolah pun kamu dapet beasiswa, jadi—buat apa ibu nyesel?”
Ibu ada benarnya.
Waktu bergulir begitu cepat. Tak terasa—malam telah tiba. North terpaku menyangga kepala diatas meja belajarnya, menatap bulan purnama yang bersinar amat terang di angkasa lepas.
Pemuda berusia delapan belas tahun itu masih sibuk pada pikirannya sendiri. Bila benar Janshen dan keluarganya adalah Vampir, kenapa dia tidak takut matahari? Kenapa bisa makan permen? Kenapa bisa makan nasi dan Indomie di kantin? Kenapa tidak punya taring? Kenapa—
Ah, sepertinya benar bahwa sedikit yang ia tahu, itu akan lebih baik.
“Kalo sampe gue mati ditangan dia — ibu sama ayah bakal sedih ga, ya?”
Belum selesai menyelam pada pemikiran diluar nalarnya, kalung zamrud miliknya tiba-tiba menyala, berpendar disekitar tempat North duduk sebelum ia mendengar lolongan serigala dari kejauhan.
“Sial.”
North menutup paksa jendela kamarnya, kemudian … bruk!
Seekor gagak menabrak jendela kamarnya. Darah segar menetes dan menyiprat hingga badan gagak itu sepenuhnya jatuh menghantam beton halaman.
North spontan terjatuh dari tempat duduknya, beringsut mundur hingga bahunya menyentuh pinggiran tempat tidur.
“Oh, gosh.”
Tok! Tok! Tok!
“Nak, ada yang nyari kamu diluar.”
Itu suara ibu!
“Ngapain sih..” tanya North putus asa.
Didepannya kini sudah ada Janshen. Cowok itu duduk diatas motornya sambil menyerahkan satu plastik makanan. “Martabak.”
Pemuda Scorpio itu menghela nafas lelah, ia menyandarkan tubuh ke pagar rumahnya. “Makasih. Masuk gih.” Ajak North.
Janshen menggeleng, “Mau langsung otw.”
“Kemana?”
“Main sama Noah. Deket rumah doang.” Balas si Taurus—nadanya terdengar sumringah.
North menguap pelan, tak ada gunanya menerka darimana Janshen tahu arah rumahnya—toh, vampir tahu segalanya.
“Dibilang jangan ngebatin kalo deket gue.”
“—dan juga …”
Janshen mencondongkan tubuh, “Apa yang lu pikirin itu udah ada diluar batas kemampuan lu, simpen buat diri sendiri aja.”
North hanya mampu membisu.
“Dah ah, mau pamit dulu, ibu sama ayah didalem?” North mengangguk.
“Kema—”
“Nyari stok darah.”